Kabar Warga

Kedekatan guru dengan murid menjadi modal utama peradaban dunia pendidikan di Indonesia.

Ditulis Oleh

AQIB IBNU HAMBAL

Digitalisasi dan segala bidang  transformasinya merupakan salah satu bentuk kemajuan dan perkembangan peradaban kehidupan manusia seiring dengan kodrat zaman. Begitu pula  dengan berbagai kemajuan pendidikan dan segala pernik- perniknya tak sedikit pula mengubah tatanan peradaban lama dan peradaban millenial dalam bidang pendidikan.

Peradaban bukan hanya soal batu, tembok, dan bangunan megah. Ia tercipta melalui interaksi halus dan penuh makna antara manusia, terutama antara guru dan murid. Dalam relasi ini, ada suatu ikatan tak tampak namun begitu kuat, yang membentuk jalinan sejarah yang tak terhitung jumlahnya. Peradaban yang dimaksud bukanlah peradaban materi, melainkan peradaban ilmu, karakter, dan nilai-nilai kemanusiaan yang ditanamkan di dalam hati setiap individu.

Guru, dalam peranannya, adalah penyuluh dalam kegelapan, pembuka jalan bagi generasi penerus untuk menemukan arah dalam kehidupan. Mereka bukan sekadar pengajar yang mengisi otak dengan pengetahuan, tetapi juga pembimbing yang melatih hati dan nurani, menumbuhkan rasa ingin tahu yang tak pernah padam. Seperti pohon yang akar-akarnya tertanam dalam tanah, guru mengajarkan untuk bertumbuh dan berakar dalam kebenaran, kejujuran, dan kasih sayang.

Namun, guru bukanlah satu-satunya yang berperan. Murid, dengan segala rasa ingin tahunya, adalah penuntut ilmu yang haus akan cahaya pengetahuan. Mereka adalah penerus yang tidak hanya belajar untuk masa depan mereka, tetapi untuk masa depan dunia. Ketika murid menghadap guru dengan pertanyaan-pertanyaan polos dan semangat tak terpadamkan, mereka mengingatkan guru tentang makna sejati dari belajar, sebuah perjalanan tanpa akhir yang berkelanjutan.

Peradaban yang diciptakan oleh hubungan antara guru dan murid bukanlah sesuatu yang langsung terlihat. Seringkali, itu terjalin dalam percakapan kecil, dalam tatapan penuh arti, atau dalam senyuman yang terukir setelah sebuah pelajaran yang penuh makna. Setiap ilmu yang diterima, setiap nilai yang diajarkan, akan membekas sepanjang hidup. Mereka yang diajarkan akan menjadi guru di masa depan, dan begitu seterusnya, dalam siklus tak berujung yang membentuk peradaban.

Peradaban ini tidak hanya tercipta di ruang kelas, tetapi juga di luar ruang kelas, serta dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah nilai yang kuat ditanamkan ketika guru mengajarkan bukan hanya tentang rumus atau teori, tetapi juga tentang kebijaksanaan, rasa saling menghormati, dan tanggung jawab terhadap sesama. Murid, yang membawa nilai-nilai ini, menjadi agen perubahan di masyarakat. Dalam diri mereka, hidup kembali semangat yang dibangun oleh para guru, diteruskan dan disebarkan kepada dunia.

Guru dan murid adalah dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Dalam keduanya, peradaban itu terpelihara dan terus tumbuh. Guru memberi, dan murid menerima. Murid memberi, dan guru menerima. Mereka adalah dua kekuatan yang saling menguatkan, membentuk suatu harmoni yang indah. Peradaban tidak pernah lahir dalam kesendirian, tetapi dalam kebersamaan. Dan melalui kebersamaan ini, dunia menjadi lebih terang, penuh harapan, dan siap menyongsong masa depan yang lebih baik.

Dalam setiap langkah yang diambil, baik guru maupun murid membawa peradaban itu, peradaban yang tidak tampak di permukaan, tetapi mengalir melalui kata-kata, tindakan, dan hati. Sebuah warisan yang terus menerus diwariskan, tak lekang oleh waktu. Karena dalam dunia ini, peradaban yang sejati bukanlah yang tercatat dalam buku sejarah, melainkan yang hidup dalam tiap langkah generasi yang terus berkembang.

Di sinilah letak keindahannya, pada tiap kesempatan yang diberikan untuk belajar, pada tiap kesempatan yang dihadirkan untuk mengajar. Pada akhirnya, baik guru maupun murid adalah bagian dari sebuah kisah besar, kisah peradaban manusia yang terus berlanjut.

Tags: Kabar Warga