Kepolisian Resor (Polres) Madiun Kota terus berkomitmen melawan praktik perundungan atau bullying yang semakin marak, khususnya di kalangan pelajar. Dalam sebuah diskusi bertema "Lawan Perundungan," Kanit PPA Polres Madiun Kota, Bapak Ibda Aris Yunandi, S.H., menjelaskan secara mendalam tentang definisi, jenis, dampak, hingga langkah hukum yang diambil, termasuk penerapan Restorative Justice, untuk menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari perundungan di Kota Madiun.
Berikut adalah rangkuman dialog di Spektrum Kota Suara Madiun yang dipandu oleh Amanda
Definisi, Jenis, dan Latar Belakang
**Amanda:** Selamat pagi sahabat Saramadiun semuanya, kembali berjumpa bersama saya Amanda di program Spektrum Kota Radio Suaramadiun. Hari ini kita akan bersama-sama mengangkat tema yang penting, yakni **Lawan Perundungan**. Kita harus bersama-sama melawan perundungan. Nah, Pak Aris, selamat pagi, *Assalamualaikum*.
**Pak Aris:** *Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh*. Selamat pagi, Mbak. Selamat pagi para pendengar semuanya.
**Amanda:** Kabar baik ya, Pak? Baik, Pak Ibda Aris Yunandi. Untuk mengawali perbincangan kita, sebenarnya untuk **definisi sederhana dari perundungan atau *bullying* ini sendiri seperti apa, Pak?**
**Pak Aris:** Terima kasih. Perundungan adalah **perilaku agresif yang dilakukan secara berulang** dengan tujuan menyakiti atau menakuti seseorang. Hal ini kami angkat karena kami selaku unit PPA Polres Kota yang setiap harinya menangani perkara terkait anak. Perundungan ini korbannya adalah anak-anak.
**Amanda:** Jadi memang anak-anak ini harus kita lindungi agar jangan sampai mereka terlibat atau menjadi korban perundungan. Nah, kalau di PPA, laporan yang kerap kali masuk adalah korban dari *bullying* fisik, seksual, atau siber. Nah, Pak, **apa saja jenis-jenis perundungan yang memang harus dipahami oleh sahabat pendengar?**
**Pak Aris:** Yang pertama untuk jenis-jenis perundungan yaitu secara **fisik**, kekerasan fisik seperti memukul, menendang, menampar, mencekik, atau kegiatan fisik lainnya. Kemudian ada perundungan secara **verbal** (melalui media sosial) dan secara **sosial** (cela-celaan terhadap seseorang). Perundungan ini dilakukan oleh pelaku-pelaku yang merasa kuat, punya kekuatan, atau punya perkumpulan kelompok yang lebih kuat terhadap mereka yang nota bene-nya lemah.
** Amanda:** Tadi juga sempat disinggung, penyebab perundungan adalah sifat seseorang yang ingin mendominasi. **Apa sebab-sebab lain yang menyebabkan akhirnya terjadi *bullying* itu sendiri?**
**Pak Aris:** Mereka si pelaku melakukan perundungan karena mereka merasa sebagai kelompok yang paling kuat. Mereka ingin menguasai, dalam arti ingin **mendominasi** daripada seseorang atau kelompok kecil yang mereka anggap lemah.
** Amanda:** Oke, ingin membuktikan bahwasanya mereka "si paling" begitu ya. Nah, **menurut data, pelajar mana yang lebih dominan menjadi korban?** SMA kah atau SMP kah?
**Pak Aris:** Kalau sifatnya perundungan itu lebih cenderung ke tingkat **SMP dan SMA**. Data yang kami terima menunjukkan ada peningkatan di tingkat **SMA**, karena di SMA, perundungan bisa terjadi tidak saja di sekolah, tetapi juga di lingkungan kelompok atau sosial.
**Tanda, Respon, dan Penegakan Hukum**
** Amanda:** Ini juga seringkali dilupakan oleh pelajar, Pak. Mereka **menyamakan antara bercanda dan perundungan** itu sendiri. Padahal efeknya sudah melukai. **Bagaimana cara membedakan kedua hal tersebut?**
**Pak Aris:** Untuk membedakan, yang pertama adalah **si korban ini merasa dia tertekan**, menyendiri, atau terasingkan. Kalau perundungan dilakukan **secara berulang-ulang** dengan maksud menyakiti atau membuat korban tertekan, maka itu sudah bukan candaan lagi. Bisa dilihat dari korban, biasanya mereka terasing, merasa terkucil, murung. Ini perlu diperhatikan oleh orang tua.
** Amanda:** Nah, kadang-kadang korban itu juga **takut untuk melapor**. **Apa sih ketakutan yang memang dirasakan oleh korban itu sendiri?**
**Pak Aris:** Yang pertama, dia **takut tidak mempunyai teman**. Yang kedua, dia **takut melapor karena apabila dia melapor dia akan semakin tambah dibully terus** atau dilakukan kekerasan. Bahkan temannya sendiri pun takut menginformasikan karena takut menjadi korban selanjutnya.
** Amanda:** Betul sekali. Nah, **bagaimana caranya kita merespons jika memang terjadi perundungan di sekitar kita, dan apa langkah awal penanganan di PPA?**
**Pak Aris:** Ketika kami menerima laporan, kami akan merespons melalui sentra pelayanan kepolisian. Kami akan berkoordinasi dengan dinas terkait:
* **Dinas Sosial:** Menyediakan Pekerja Sosial (Peksos) dan psikolog untuk pendampingan mental anak.
* **Poliklinik:** Untuk kekerasan fisik, kami membawanya ke poliklinik di Polres untuk mengetahui akibat kekerasan yang dialami.
** Amanda:** Pak, **kenapa *cyberbullying* dan *bullying* ini seringkali terjadi di kalangan remaja dan pelajar?**
**Pak Aris:** Anak-anak ini merupakan anak-anak yang istilahnya **melek daripada medsos**. Mereka melakukan perbuatan bisa saja **ikut-ikutan** atau ingin menunjukkan eksistensinya. Ini perlunya pendampingan dari orang tua di rumah dan guru di sekolah. Juga, pengawasan dari kita selaku orang tua terhadap kegiatan anak di luar sana itu memang perlu.
** Amanda:** Nah, untuk pelaku, **jika si pelaku ini tidak memiliki efek jera, apakah hukuman yang pantas diberikan?**
**Pak Aris:** Tentu ada langkah-langkah, sesuai dengan Perpol Nomor 8 Tahun 2021, ada namanya **Restorative Justice (RJ)**.
1. **Langkah Pertama:** Kita mengundang para pihak (korban, pelaku, orang tua, guru, Peksos, Psikolog, BAPAS) untuk musyawarah, yaitu penerapan hukum di luar sidang pengadilan. Jika berhasil, perkara diselesaikan di tingkat penyidikan.
2. **Langkah Selanjutnya:** Apabila RJ tidak berhasil, bisa kita limpahkan ke tingkat Kejaksaan, kemudian Pengadilan, dengan prosedur **Sistem Peradilan Anak**.
** Amanda:** **Apakah ada perlindungan yang didapat oleh si korban ketika mereka melapor?**
**Pak Aris:** Tentu ada. Kami akan selalu **mengawasi** korban apakah ada tindakan-tindakan lain setelah mereka melapor, karena takutnya mereka diintimidasi lagi. Kami berkoordinasi dengan Dinas Sosial untuk menyediakan **Rumah Aman** ketika anak merasa tidak aman untuk kembali ke rumahnya.
**Peran Sekolah dan Sesi Tanya Jawab Pendengar**
** Amanda:** Kita kembali, Pak Aris. **Bagaimana peran lingkungan sekolah untuk melindungi siswa-siswinya dan terbebas dari perundungan?**
**Pak Aris:** Kami dari unit PPA dan fungsi kepolisian lain sering melakukan **pembinaan dan penyuluhan** terhadap para siswa agar siswa tahu apa itu *bullying*. Di sekolah sendiri, mereka sudah punya **Satgas** atau petugas untuk menerima pelaporan. Mereka sudah mempunyai SOP tersendiri yang sifatnya mendidik. Jika sudah ranah pidana, baru mereka melaporkan kepada kami.
** Amanda:** Luar biasa. Sekarang kita ke pertanyaan dari para pendengar yang sudah masuk.
**Tanya Pendengar (4769):** Kalau saya dibully tapi tidak berani cerita, jadi **saya harus mulai dari siapa dulu ceritanya?**
**Pak Aris:** Yang pertama, Adik kan punya **teman dekat**; teman curhat. Ceritakan kepada mereka. Kalau di rumah, sampaikan kepada **ibu atau bapak**. Kalau di sekolah, sampaikan kepada **guru**. Di situlah nanti akan ditindaklanjuti.
**Tanya Pendengar (0838):** Kalau *bullying*-nya berupa ejekan tiap hari, **apakah itu juga termasuk perundungan ya, Pak?**
**Pak Aris:** Kalau ejekan itu dilakukan **setiap hari**, itu juga namanya **berulang kali**, sehingga bisa namanya perundungan. Namun, ada tahapan apakah itu masuk ranah pidana atau tidak, dan itu akan kami telaah.
**Tanya Pendengar (7670):** **Apa strategi agar saya bisa lebih percaya diri setelah menjadi korban *bullying*?**
**Pak Aris:** Rasa percaya diri harus ditumbuhkan dari diri kita sendiri. Yakin bahwa permasalahan itu sudah diselesaikan, dan **yakin bahwa aparat penegak hukum sudah melakukan tindakan** terhadap pelaku sehingga mereka mendapat efek jera.
**Pesan Penutup**
** Amanda:** Pak Aris, sebagai penutup, mungkin ada pesan yang disampaikan untuk sahabat pendengar di Kota Madiun agar kita semua bisa melawan perundungan?
**Pak Aris:** Bahwa tindakan *bullying* atau perundungan adalah **melanggar undang-undang** (UU No. 35 Tahun 2014) dan merupakan tindakan pidana yang ada ancaman hukumannya. Jauhi perbuatan perundungan maupun *bullying* terhadap sesama. Bagi para korban, **jangan sampai kita terlibat aksi perundungan**. Kepada para korban yang sudah mengalami *bullying*, **kita harus percaya diri** dan **lapor** kepada Bapak/Ibu guru atau orang tua.
** Amanda:** Sekali lagi terima kasih untuk Pak Aris yang sudah membagikan edukasi yang mendalam terkait lawan perundungan ini tadi. Kita harus bersinergi untuk melawan perundungan dan menciptakan kondisi Kota Madiun yang aman, nyaman, dan kondusif. Saya Amanda pamit undur diri, sampai jumpa. *Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh*.
**Pak Aris:** *Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh*.