Info Radio

Berita Radio

Lawan Perundungan

Berita Suara Radio Terkini

Kegawatdaruratan di Rumah: Kenali Tanda Bahaya, Lakukan Pertolongan Pertama, dan Jangan Panik

Kegawatdaruratan di Rumah: Kenali Tanda Bahaya, Lakukan Pertolongan Pertama, dan Jangan Panik

Kegawatdaruratan di Rumah: Kenali Tanda Bahaya, Lakukan Pertolongan Pertama, dan Jangan Panik

MADIUN — Kegawatdaruratan dapat terjadi kapan saja, termasuk di lingkungan rumah, sehingga setiap keluarga perlu memiliki pengetahuan dasar untuk mengenali dan memberikan pertolongan pertama. Hal itu disampaikan Jarmiati, Kabid Keperawatan RSU Darmayu Kota Madiun, dalam siaran 93 FM LPPL Radio Suara Madiun, saat membahas kesiapsiagaan menghadapi kegawatdaruratan di rumah dan langkah yang harus dilakukan sebelum pasien mendapatkan penanganan medis.

Kegawatdaruratan Bisa Terjadi di Rumah
Jarmiati menjelaskan, kegawatdaruratan merupakan kondisi klinis yang mengancam nyawa dan membutuhkan penanganan segera untuk mencegah kondisi yang lebih buruk, termasuk kecacatan permanen.
Menurutnya, masyarakat tidak boleh menganggap rumah sebagai tempat yang sepenuhnya bebas dari risiko kegawatdaruratan. Kondisi seperti penurunan kesadaran, kejang, sesak napas, luka bakar, perdarahan, nyeri dada, hingga cedera dapat terjadi secara tiba-tiba.
Karena itu, hal pertama yang harus dimiliki keluarga adalah kemampuan mengenali tanda-tanda kegawatdaruratan. Kepanikan justru dapat membuat seseorang salah mengambil tindakan.
“Prinsip utama kegawatdaruratan itu adalah aman diri, aman pasien, dan aman lingkungan.”
Artinya, penolong harus memastikan keselamatan dirinya terlebih dahulu, kemudian mengamankan pasien dan memastikan lingkungan sekitar tidak menimbulkan bahaya tambahan.

Saat Menemukan Orang Pingsan atau Tidak Sadar
Penurunan kesadaran atau kondisi tiba-tiba tidak sadar merupakan salah satu kegawatdaruratan yang cukup sering terjadi di lingkungan keluarga.
Jika menemukan anggota keluarga pingsan, pasien sebaiknya dipindahkan ke tempat yang aman dan datar apabila sebelumnya berada dalam posisi yang berisiko terbentur.
Setelah itu, periksa respons pasien dengan menepuk bahu secara perlahan sembari memanggilnya. Jika tidak memberikan respons, segera minta bantuan dan hubungi layanan kegawatdaruratan atau bawa pasien ke fasilitas kesehatan terdekat.
Denyut nadi juga dapat diperiksa. Jika pasien tidak menunjukkan denyut nadi, pertolongan berupa pijat jantung atau resusitasi jantung paru (RJP) perlu dilakukan oleh orang yang mampu melakukannya sambil menunggu bantuan medis.
Sebaliknya, apabila pasien tidak sadar tetapi masih memiliki denyut nadi, pasien dapat diposisikan miring untuk membantu menjaga jalan napas tetap terbuka.

Jangan Memberikan Makanan atau Minuman
Salah satu kesalahan yang masih sering dilakukan adalah memberikan minum kepada orang yang sedang tidak sadar.
Jarmiati menegaskan tindakan tersebut berbahaya karena orang dengan penurunan kesadaran dapat mengalami penurunan refleks menelan. Cairan atau makanan yang diberikan berisiko masuk ke saluran pernapasan dan menyebabkan tersedak.
Tersedak dapat menghambat pernapasan. Jika tubuh kekurangan oksigen, fungsi jantung juga dapat terganggu dan kondisi pasien dapat memburuk dengan cepat.

Tersedak: Jangan Menunggu Terlalu Lama
Tersedak juga dapat terjadi ketika seseorang sedang makan, terutama jika makanan masuk dan menyumbat jalan napas.
Jika korban masih mampu batuk, korban dapat diarahkan untuk terus batuk guna mengeluarkan benda yang menyumbat. Namun, jika sumbatan berat terjadi, diperlukan pertolongan segera, termasuk manuver Heimlich atau teknik pertolongan sesuai kondisi korban.
Jarmiati mengingatkan bahwa masyarakat tetap perlu menghubungi layanan kegawatdaruratan atau membawa korban ke fasilitas kesehatan terdekat. Peralatan khusus untuk membantu korban tersedak memang dapat menjadi alternatif, tetapi penggunaannya harus disertai pemahaman dan pelatihan yang benar.

Luka Bakar: Gunakan Air Mengalir, Bukan Odol
Luka bakar menjadi salah satu kecelakaan rumah tangga yang sering terjadi, terutama ketika memasak dan terkena minyak atau air panas.
Pertolongan pertama yang dianjurkan adalah mengalirkan air pada area yang terkena luka bakar selama sekitar **10–20 menit**. Langkah tersebut bertujuan membantu mengurangi panas yang masih tersimpan di jaringan kulit.
Sebaliknya, masyarakat diminta tidak mengoleskan pasta gigi, mentega, atau bahan lain yang tidak direkomendasikan pada luka bakar.
“Yang harus kita lakukan pertama kali adalah memberikan air mengalir selama 10 sampai 20 menit.”
Luka bakar yang luas membutuhkan perhatian medis karena dapat menyebabkan kehilangan cairan dan berujung pada syok. Pasien dengan kondisi tersebut harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan.

Kejang: Jangan Ditahan dan Jangan Memasukkan Sendok
Kejang dapat terjadi pada anak, misalnya akibat demam tinggi, maupun pada orang dewasa dengan kondisi tertentu seperti epilepsi.
Saat seseorang mengalami kejang, pasien harus ditempatkan di area yang aman dan datar. Jika memungkinkan, posisikan tubuh secara miring untuk membantu menjaga jalan napas.
Masyarakat justru tidak dianjurkan menahan gerakan tubuh pasien secara paksa. Memasukkan sendok, kain, atau benda lain ke dalam mulut pasien juga tidak boleh dilakukan.
Tindakan tersebut dapat menyebabkan cedera pada gigi dan berpotensi mengganggu jalan napas. Pasien sebaiknya dibiarkan mengalami kejang dengan aman, kemudian diamati durasi dan apakah kejang berulang.
Jika kejang berlangsung lama atau berulang, pasien harus segera mendapatkan pertolongan medis.

Perdarahan: Tekan dan Bebat, Jangan Buka-Tutup Balutan
Perdarahan yang terus berlangsung termasuk kondisi yang memerlukan pertolongan cepat.
Pertolongan awal dilakukan dengan mengontrol perdarahan melalui pembebatan menggunakan kasa steril atau kain bersih jika kasa tidak tersedia. Tekanan diberikan secara terus-menerus selama sekitar 5–10 menit.
Hal penting yang harus dihindari adalah membuka balutan berulang kali hanya untuk melihat apakah darah masih keluar.
Menurut Jarmiati, ketika balutan pertama sudah diberikan, proses pembekuan darah sedang berlangsung. Membuka kembali balutan dapat mengganggu proses tersebut dan menyebabkan perdarahan kembali terjadi.
Untuk membersihkan luka terbuka, cairan NaCl dapat digunakan. Penggunaan bahan seperti minyak tawon pada luka terbuka tidak dianjurkan.

Nyeri Dada Kiri Bisa Menjadi Tanda Serangan Jantung
Masyarakat juga perlu mewaspadai nyeri dada, terutama nyeri dada kiri yang terasa seperti tertusuk atau tertindih dan dapat menjalar ke lengan kiri maupun punggung.
Gejala tersebut dapat menjadi tanda sumbatan pembuluh darah jantung atau serangan jantung dan membutuhkan penanganan segera.
Jarmiati menekankan pentingnya membawa pasien langsung ke IGD. Pasien sebaiknya tidak dibiarkan pergi sendiri atau mengemudikan kendaraan karena kondisi dapat memburuk sewaktu-waktu di perjalanan.

Golden Period Sangat Menentukan
Penanganan serangan jantung memiliki periode waktu yang sangat menentukan. Menurut penjelasan dalam siaran tersebut, terapi pada 1–2 jam pertama setelah serangan memiliki efektivitas paling tinggi. Pada rentang 2–6 jam, terapi masih efektif meskipun tidak seoptimal periode awal. Sementara pada 6–12 jam, penanganan masih dapat dilakukan dalam kondisi tertentu.
Karena itu, masyarakat tidak boleh menganggap nyeri dada sebagai sekadar “masuk angin”.
“Prinsip utama kita harus segera membawa ke IGD.”

Cedera dan Jatuh: Jangan Langsung Dipijat
Kecelakaan seperti jatuh dari tempat tinggi atau jatuh di kamar mandi juga memerlukan kehati-hatian.
Jika terdapat dugaan patah tulang pada tangan atau anggota tubuh lain, bagian tersebut sebaiknya diistirahatkan dan tidak banyak digerakkan. Imobilisasi sederhana dapat dilakukan menggunakan papan atau benda lain yang sesuai untuk membantu menjaga bagian tubuh tetap stabil.
Jarmiati mengingatkan agar cedera tidak langsung dipijat. Bengkak, memar, nyeri hebat, dan sulit digerakkan dapat menjadi tanda adanya patah tulang.
Pada kasus jatuh di kamar mandi, terutama pada lansia, lingkungan yang sempit juga harus diperhatikan. Pasien perlu dipindahkan ke tempat yang aman dan datar dengan bantuan orang yang cukup, tanpa membuat penolong maupun pasien mengalami cedera tambahan.

Sesak Napas Perlu Dikenali Sejak Dini
Kesulitan bernapas dapat dikenali dari beberapa tanda, antara lain napas yang cepat, tersengal-sengal, kesulitan menarik atau mengeluarkan napas, serta penggunaan tenaga berlebihan saat bernapas.
Dalam wawancara tersebut disebutkan bahwa frekuensi napas di atas 24 kali per menit dapat menjadi salah satu tanda adanya gangguan pernapasan, terutama jika disertai gejala lain.
Pada penderita asma, suara mengi atau “ngik-ngik” juga dapat terdengar ketika mengalami kekambuhan.
Sementara itu, mendengkur ketika tidur pada orang sehat umumnya tidak otomatis merupakan kegawatdaruratan. Namun, jika seseorang sedang sakit, kemudian mendengkur dengan kondisi kesadaran menurun dan sulit dibangunkan, situasi tersebut perlu dicurigai sebagai masalah serius dan respons pasien harus segera diperiksa.

Siapkan Kotak P3K di Rumah
Kesiapsiagaan tidak hanya dilakukan ketika keadaan darurat sudah terjadi. Keluarga juga perlu mempersiapkan perlengkapan pertolongan pertama di rumah.
Beberapa perlengkapan yang dibahas dalam siaran antara lain:
  • Termometer untuk mengukur suhu tubuh.
  • Gunting khusus untuk kebutuhan P3K.
  • Alat pengukur tekanan darah, terutama yang digital untuk penggunaan masyarakat awam.
  • Kasa steril atau kasa gulung.
  • Plester.
  • Cairan NaCl untuk membersihkan luka.
  • Obat penurun demam seperti parasetamol.
  • Obat tertentu untuk alergi sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Untuk obat-obatan, masyarakat sebaiknya tidak melakukan pengobatan sendiri tanpa memahami indikasi dan dosisnya. Penggunaan obat tertentu, termasuk obat untuk alergi atau salep luka bakar, perlu mengikuti petunjuk dokter atau tenaga kesehatan.
Jarmiati juga mengingatkan agar masyarakat tidak sembarangan menggunakan bahan rumahan atau produk yang disarankan dari pengalaman orang lain untuk menangani luka.

Nomor Darurat Harus Mudah Diakses
Selain menyediakan kotak P3K, keluarga dianjurkan menyimpan nomor layanan kegawatdaruratan di tempat yang mudah ditemukan.
Dalam siaran tersebut disebutkan layanan 112 serta nomor IGD RSU Darmayu Madiun 0351-409999 sebagai kontak yang dapat digunakan untuk mendapatkan bantuan.
Layanan IGD juga disebut tersedia selama 24 jam dengan tenaga kesehatan yang siaga menangani kondisi kegawatdaruratan.

Kesiapsiagaan Keluarga Menjadi Kunci
Kegawatdaruratan tidak selalu dapat diprediksi. Karena itu, kemampuan mengenali tanda bahaya dan melakukan pertolongan pertama secara tepat dapat menjadi faktor penting sebelum pasien memperoleh penanganan di fasilitas kesehatan.
Jarmiati menekankan tiga hal yang perlu diingat keluarga: mengenali kegawatdaruratan, mengetahui tindakan awal yang benar, dan tidak panik.
“Kesiapsiagaan anggota keluarga di rumah itu memang sangat penting dan kita harus benar-benar peduli dan mau belajar apa saja kegawatdaruratan di rumah.”
Dengan pengetahuan tersebut, masyarakat diharapkan tidak lagi melakukan tindakan yang justru berisiko memperburuk kondisi pasien. Dalam keadaan yang mengancam nyawa, prinsip utamanya adalah memberikan pertolongan awal yang aman dan secepat mungkin membawa pasien ke IGD atau fasilitas kesehatan terdekat.